Upacara Balik Sumpah Agung dan Mendem Pedagingan Digelar di Pura Hulundanu Batur Jelang Puncak Karya

 Upacara Balik Sumpah Agung dan Mendem Pedagingan Digelar di Pura Hulundanu Batur Jelang Puncak Karya

Prosesi Ngaturin di Pura Banjar Lusu, Balik Sumpah Agung, hingga Melaspas Wangunan, Rsi Gana dan Mendem Pedagingan di Madya Mandala, Jumat (11/9). (ist)

BANGLI – baliprawara.com

Rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, sejumlah prosesi sakral kembali digelar bertepatan dengan Sukra Umanis Menail, Jumat 11 September 2026, sebagai bagian dari rangkaian upacara besar yang menjadi perhatian masyarakat adat dan umat Hindu di Bali.

Rangkaian kegiatan tersebut, diawali dengan pelaksanaan Ngaturin ring Pura Banjar Lusu. Prosesi ini menjadi salah satu tahapan penting sebelum memasuki upacara-upacara berikutnya yang dilaksanakan di kawasan Pura Hulundanu Batur.

Ketua Umum Karya, I Gede Darmawa, menjelaskan bahwa, seluruh prosesi yang digelar tetap mengacu pada aturan adat dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh Desa Adat Songan. Menurutnya, pelaksanaan Ngaturin ring Pura Banjar Lusu dipimpin oleh para pamuput yang telah ditetapkan berdasarkan Kuna Dresta Desa Adat Songan.

Prosesi tersebut dipuput oleh Guru Kubayan, Jro Mangku Gede, Jro Mangku, Jro Balian, Jro Dasaran, serta Jro Penyarikan. Keterlibatan para pamuput adat tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam menjaga kelestarian tata cara pelaksanaan upacara yang selama ini dijalankan masyarakat setempat.

Setelah tahapan awal rampung dilaksanakan, rangkaian karya dilanjutkan dengan prosesi Balik Sumpah Agung yang berlangsung di Madya Mandala Pura Hulundanu Batur. Upacara ini dipimpin oleh sejumlah sulinggih dari berbagai wilayah di Bali yang hadir untuk memuput jalannya prosesi.

Upacara tersebut dipuput oleh,  Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pemayun dari Kedatuan Kawista Pura, Desa Belatungan, Pupuan, Ida Pedanda Gede Sogata dari Griya Buda Tianyar, Ida Pedanda Rsi Agung Kesuma Yoga dari Griya Kertha Yoga Tulikup Gianyar, serta Ida Pandita Dukuh Acharya Daksa dari Griya Pedukuhan Samiaga, Penatih, Denpasar.

Darmawa mengatakan bahwa pelaksanaan Balik Sumpah Agung juga melibatkan unsur pamuput adat sesuai ketentuan yang berlaku di Desa Adat Songan. “Pelaksanaan upacara Balik Sumpah Agung juga melibatkan pamuput berdasarkan Kuna Dresta Desa Adat Songan, yang terdiri atas Guru Kubayan, Jro Mangku Gede, Jro Mangku, Jro Balian, Jro Dasaran dan Jro Penyarikan,” katanya.

Usai pelaksanaan Balik Sumpah Agung, tahapan berikutnya yang digelar adalah Melaspas Wangunan, Rsi Gana dan Mendem Pedagingan di kawasan Utama Mandala Pura Hulundanu Batur. Prosesi ini menjadi bagian penting dalam rangkaian karya karena berkaitan dengan penyucian bangunan serta kelengkapan upacara yang digunakan selama pelaksanaan yadnya.

Prosesi Melaspas Wangunan, Rsi Gana dan Mendem Pedagingan dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Bajing dari Griya Tegal Jingga, Denpasar, bersama Ida Pedanda Gede Swabawa Adnyana Karang dari Buda Keling. Jalannya upacara berlangsung khidmat dengan melibatkan berbagai unsur adat yang bertugas sesuai peran masing-masing.

Seperti halnya prosesi sebelumnya, pelaksanaan Melaspas Wangunan, Rsi Gana dan Mendem Pedagingan juga melibatkan pamuput adat berdasarkan Kuna Dresta Desa Adat Songan. Unsur Guru Kubayan, Jro Mangku Gede, Jro Mangku, Jro Balian, Jro Dasaran, hingga Jro Penyarikan kembali mengambil bagian dalam rangkaian upacara tersebut.

Selain prosesi utama, suasana pelaksanaan karya juga ada rangkaian ilen-ilen atau pertunjukan kesenian tradisional yang menjadi bagian dari rangkaian upacara. Kehadiran berbagai kesenian tersebut menambah semarak pelaksanaan karya sekaligus menjadi bentuk persembahan dalam kegiatan keagamaan yang sedang berlangsung.

Pementasan wayang menjadi salah satu sajian yang turut digelar pada hari itu. Pertunjukan tersebut dibawakan oleh Jro Dalang Puasa Pujung yang menampilkan pementasan sesuai tradisi yang lazim hadir dalam upacara besar di Bali.

Sementara itu, tari Rejang dipersembahkan oleh Dadia Banjar Anyar Dauhan, Songan. Tarian sakral tersebut dibawakan sebagai bagian dari persembahan dalam rangkaian yadnya yang tengah berlangsung di Pura Hulundanu Batur.

Tidak hanya itu, prosesi Sidakarya juga turut dilaksanakan dan dipuput oleh Jro Topeng Pajenengan. Kehadiran Sidakarya menjadi salah satu bagian yang melengkapi rangkaian pelaksanaan upacara keagamaan tersebut.

Suasana semakin meriah dengan penampilan Tabuh dan Baris Tumbak yang dibawakan oleh Sekaa Gong dan Pregina Dadia Banjar Anyar Danginan, Songan. Penampilan seni tradisional tersebut mendapat perhatian dari masyarakat yang hadir mengikuti rangkaian karya.

Menurut Darmawa, seluruh prosesi yang telah dilaksanakan tersebut merupakan bagian dari tahapan menuju puncak Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur.

“Seluruh rangkaian tersebut menjadi bagian dari tahapan Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur yang dilaksanakan secara bertahap hingga menuju puncak karya,” tambah Darmawa didampingi Ketua Pelaksana, Jro Saba.

Pelaksanaan karya besar ini masih akan berlanjut dengan sejumlah tahapan berikutnya sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Seluruh prosesi dijalankan dengan melibatkan unsur sulinggih, pemangku, perangkat adat, serta krama Desa Adat Songan sebagai bentuk pelestarian tradisi dan pelaksanaan yadnya yang telah diwariskan secara turun-temurun. (MBP)

 

redaksi

Related post