Vokal Anak SD Kian Matang, Lomba Gending Rare Bulan Bahasa Bali 2026 Diapresiasi Juri

 Vokal Anak SD Kian Matang, Lomba Gending Rare Bulan Bahasa Bali 2026 Diapresiasi Juri

Salah satu penampilan peserta lomba Gending Rare Bulan Bahasa Bali 2026.

DENPASAR – baliprawara.com
Wimbakara (Lomba) Gending Rare tingkat Sekolah Dasar (SD) dalam rangka Bulan Bahasa Bali 2026 menampilkan kualitas vokal peserta yang dinilai semakin matang dan berkembang signifikan. Lomba yang digelar di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (8/2/2026), berlangsung kompetitif dengan persaingan yang ketat.

Dari 24 peserta yang tampil, dewan juri akhirnya menetapkan Made Amisha Rheata Distmika sebagai Juara I, disusul Ni Luh Putu Eka Octaviani sebagai Juara II, dan Ni Made Raisa Cempaka Ariana meraih Juara III.

Tiga dewan juri yang menilai lomba tersebut yakni Dr. I Ketut Sumerjana, S.Sn., M.Sn, Dr. I Gusti Putu Sumerjana, S.Sn., dan dr. Luh Putu Liana Indayana Dewi, M.Biomed (AAM). Mereka menilai hampir seluruh peserta tampil dengan kualitas vokal yang sangat baik.

Dr. I Ketut Sumerjana mengungkapkan, sebagian besar peserta sudah mampu menjangkau paksel atau nada tinggi dengan teknik pernapasan diafragma yang tepat. Hal ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Dari 24 peserta, hampir semuanya sudah menyentuh nada-nada tinggi. Biasanya anak-anak jarang berani ke paksel, tetapi kali ini mereka mampu membawakan dengan sangat baik,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan peserta tidak hanya terlihat dari sisi teknik vokal, tetapi juga pada aransemen lagu yang semakin kompleks. Jika sebelumnya masih sederhana, kini banyak peserta tampil dengan format ensemble hingga orkestra, bahkan meningkat hingga tiga level.

“Kami bertiga sangat menikmati penampilan peserta. Pesan lagunya jelas, penyajiannya luar biasa. Anak-anak ini berkembang pesat,” kata dosen ISI Bali tersebut.

Sumerjana juga menyoroti kekayaan cengkok yang semakin kuat, terutama saat peserta membawakan lagu wajib “Bebeke Putih Jambul” yang dikenal padat dan menuntut penguasaan napas. Ia bahkan mengusulkan agar para pemenang dibuatkan kompilasi lagu sebagai koleksi gending rare karena masing-masing memiliki ciri khas tersendiri.

See also  "Atma Kerthi" Diterjemahkan Lewat Warna dalam Lomba Melukis Satua Bali Serangkaian Bulan Bahasa Bali VIII

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa Lomba Gending Rare bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan sarana memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya Bali di tengah tantangan era digital.

“Anak-anak sekarang hidup dengan ‘kotak ajaib’ di tangan mereka. Lewat lomba ini, mereka kembali berinteraksi, bersosialisasi, dan memahami nilai budaya Bali,” harapnya.

Hal senada disampaikan Gusti Sudarta, yang menilai peserta memiliki kualitas vokal yang sangat baik dan menunjukkan kesiapan yang matang. Menurutnya, bibit-bibit penyanyi Bali sudah tampak jelas sejak usia dini.

“Power vokalnya kuat, wilayah nadanya bagus. Kalaupun ada yang belum sempurna, itu wajar karena usia mereka masih sangat belia,” ungkap dosen Teater ISI Bali tersebut.

Ia menambahkan, lomba gending rare menjadi media penting untuk menumbuhkan kembali penggunaan bahasa Bali di tengah persaingan global.

Sementara itu, dr. Luh Putu Liana Indayana Dewi menilai lagu wajib tahun ini jauh lebih menantang. Dengan tempo cepat, peserta dituntut mampu mengontrol napas sekaligus menjaga vibra dinamik dan cengkok khas Bali.

“Mereka masih bisa menampilkan karakter vokal Bali dengan baik. Saya sangat kagum dan bangga,” ujarnya.

Terkait lagu pilihan, Liana mengapresiasi keberagaman yang ditampilkan peserta. Namun, ia berharap para pencipta lagu Bali masa kini tetap mempertahankan unsur tradisi seperti rindik, suling, dan gamelan agar nuansa Balinya tetap kuat meski dikemas modern.

“Silakan modern atau pop, tapi jangan lupakan ruh Bali dan bahasa Balinya,” pungkas mantan penyanyi cilik era 2000-an tersebut. (MBP2)

Redaksi

Related post