Bring Back The Light, Bawa Konsep Konservasi Kunang-kunang dan Wisata Berbasis Masyarakat di The Meru Eco Tourism Week 2026
Wayan Wardika, Founder Bring Back The Light saat hadir di The Meru Eco Tourism Week 2026.
DENPASAR – baliprawara.com
Upaya menghadirkan pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi terus menjadi perhatian berbagai komunitas dan pelaku konservasi lingkungan. Salah satu gagasan yang kini mendapat perhatian adalah pengembangan model pariwisata berkualitas yang mengedepankan pelestarian alam, pemberdayaan masyarakat, serta pemanfaatan kearifan lokal secara berkelanjutan.
Konsep tersebut disampaikan oleh Wayan Wardika, Founder Bring Back The Light, yang berfokus pada konservasi kunang-kunang sekaligus pengembangan wisata berbasis masyarakat. Menurutnya, pihaknya mendapat kesempatan untuk mempresentasikan gagasan yang dikembangkan Bring Back The Light dalam The Meru Eco Tourism Week the 4th Edition tahun 2026, yang digerasl di Sanur. Kegiatan ini merupakan sebuah forum internasional yang membahas berbagai inovasi dan solusi berkelanjutan.
Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan pendekatan yang menggabungkan konservasi lingkungan, pertanian regeneratif, budaya lokal, serta pariwisata yang bertanggung jawab terhadap ekosistem.
Menurut Wayan Wardika, Bring Back The Light merupakan lembaga swadaya masyarakat yang berupaya menjaga keberlangsungan populasi kunang-kunang yang saat ini mengalami penurunan secara global. Kunang-kunang dinilai memiliki peran penting sebagai bioindikator kondisi lingkungan.
Yang mana kata dia, keberadaan serangga bercahaya tersebut menjadi penanda bahwa kualitas udara masih baik, sumber air tidak tercemar, serta kondisi tanah tetap sehat. “Sebaliknya, hilangnya populasi kunang-kunang di suatu wilayah dapat menjadi sinyal adanya gangguan terhadap keseimbangan lingkungan,” kata Wardika, saat ditemui, Sabtu 30 Mei 2026.
Lebih lanjut menurut Wardika, sejumlah faktor menjadi penyebab menurunnya populasi kunang-kunang. Di antaranya adalah pencemaran akibat bahan kimia, sampah yang mencemari perairan dan lahan pertanian, serta meningkatnya polusi cahaya.
Polusi cahaya menurutnya menjadi salah satu ancaman yang sering kali kurang mendapat perhatian. Kunang-kunang menggunakan cahaya sebagai sarana komunikasi dan proses reproduksi. “Ketika lingkungan dipenuhi pencahayaan buatan yang berlebihan, kemampuan mereka untuk berkomunikasi menjadi terganggu sehingga berdampak pada proses perkembangbiakan,” bebernya.
Selain itu, perubahan ekosistem akibat penggunaan bahan kimia sintetis dan produk petrokimia juga dinilai turut memperburuk kondisi habitat alami kunang-kunang. Ketidakseimbangan tersebut pada akhirnya mengurangi peluang regenerasi populasi serangga yang memiliki peran penting dalam ekosistem tersebut.
Sebagai solusi, Bring Back The Light menawarkan pendekatan pertanian regeneratif yang memiliki kesamaan nilai dengan sistem pertanian tradisional Bali, yakni subak. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada hasil produksi pertanian, tetapi juga memperhatikan keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Melalui konsep tersebut, masyarakat diajak untuk kembali memanfaatkan sumber daya lokal serta menghidupkan kembali pengetahuan tradisional yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan desa.
Dalam praktiknya, aktivitas pertanian tidak semata-mata diarahkan untuk meningkatkan hasil panen, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan harmoni sosial. Nilai-nilai spiritual serta budaya turut menjadi bagian dari sistem yang dijalankan sehingga tercipta keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan keberlanjutan alam.
Menurutnya, prinsip tersebut menjadi landasan penting dalam membangun hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan sekitarnya. Dengan menjaga keseimbangan tersebut, masyarakat tetap dapat memperoleh manfaat ekonomi tanpa harus mengorbankan kualitas ekosistem.
Dalam model yang ditawarkan Bring Back The Light, kegiatan wisata tidak dirancang untuk mengeksploitasi sumber daya alam ataupun merusak lingkungan. Sebaliknya, aktivitas wisata diarahkan untuk membantu meningkatkan kualitas lingkungan melalui berbagai kegiatan konservasi dan edukasi.
Masyarakat lokal juga dilibatkan secara aktif dalam setiap kegiatan yang berlangsung.
Dengan demikian, manfaat yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh wisatawan, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi warga desa yang menjadi bagian dari pengelolaan program tersebut.
Saat ini, kunang-kunang menjadi daya tarik utama dalam program wisata yang dikembangkan oleh Bring Back The Light. Wisatawan diajak untuk memahami berbagai aspek kehidupan kunang-kunang secara mendalam, mulai dari siklus hidup, proses reproduksi, hingga kebutuhan habitat yang harus dijaga agar populasinya tetap bertahan.
Pengunjung juga diperkenalkan pada tahapan perkembangan kunang-kunang sejak bertelur, menjadi larva, pupa, hingga dewasa. Selain itu, wisatawan memperoleh penjelasan mengenai berbagai upaya konservasi yang dilakukan untuk melindungi spesies tersebut dari ancaman kepunahan.
Tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, pengalaman wisata yang ditawarkan juga memperkenalkan kehidupan masyarakat desa secara lebih dekat. Wisatawan diajak memahami bagaimana masyarakat menjaga hubungan harmonis dengan alam serta menerapkan berbagai nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Program wisata juga mencakup aktivitas kuliner berbasis tradisi lokal. Masyarakat desa dilibatkan untuk memperkenalkan berbagai teknik pengolahan makanan tradisional kepada wisatawan.
Mulai dari pembuatan minyak kelapa, meracik bumbu Bali atau basa genep, hingga memasak menggunakan paon atau dapur tradisional menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan. Wisatawan tidak hanya menikmati hidangan yang telah tersedia, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembuatannya.
Dengan demikian, mereka dapat memahami nilai budaya yang terkandung di balik setiap makanan tradisional yang disajikan.
Setelah berbagai aktivitas tersebut berlangsung, pengalaman wisata kemudian ditutup dengan menikmati keindahan cahaya kunang-kunang yang muncul secara alami di lingkungan desa pada malam hari. (MBP)
