Dramatari Persembahan Seoul Institute of the Arts – ISI Bali Sungguh Memikat, I Godogan Berhasil Pinang “Putri Korea”
DENPASAR – baliprawara.com
Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Bali menjadi pusat perhatian penonton Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48, Rabu (8/7/2026). Pasalnya, malam itu dipanggungkan dramatari berjudul “Pangeran Kodok atau I Godogan”, garapan karya seni hasil kolaborasi Seoul Institute of the Arts, Korea Selatan dengan ISI Bali. Diperkuat puluhan orang penari dan penabuh dari Seoul Institute of the Arts dan ISI Bali, dramatari Godogan itu sungguh memikat. Selain menonjolkan unsur estetik-tematik, garapan ini sarat nilai filosofi yang diangkat dari cerita rakyat Bali.
Alat musik, maupun kostum penabuh dan penari kedua kampus ini memang berbeda, tapi alunan dan warnanya serasi, menyatu dalam sebuah garapan drama tari.
Garapan ini juga menarik karena ada unsur Cak-nya, dilengkapi unsur-unsur yang lain, memperkaya penampilan. Perpaduan gamelan ritmis dan rancak mengiringi adegan demi adegan cerita, sungguh mempesona.
Dramatari Pangeran Kodok “Prince Frog” atau Godogan ini menyajikan kisah seekor kodok melakukan penyucian diri untuk menemukan wujud aslinya sebagai manusia. Kisahnya diangkat dari cerita Bali I Godogan, yakni Pangeran Jenggala yang terlahir sebagai seekor kodok, dari sebuah keluarga petani di Desa Magetan.
Atas petunjuk Dewata Agung dia akhirnya berhasil membuang topeng kodoknya untuk kembali ke wujudnya semula sebagai Pangeran Jenggala.
Suasana tegang digambarkan manakala
I Godogan menyampaikan niatnya menikahi Putri Kerajaan Daha. Ayah Godogan terperangah mendengar keinginan itu. Tetapi demi anak semata wayangnya, ayah Godogan kemudian mendatangi Raja Kerajaan Daha menyampaikan maksud Godogan. Raja marah karena putrinya mau dinikahi Godogan yang notabene seekor binatang. Sang Raja kemudian membinasakan ayah Godogan karena itu dianggap melecehkan. Mendapatkan ayahnya meninggal, I Godogan berupaya mengembalikan nyawa ayahnya.
Raja terkejut mendapatkan ayah Godogan hidup lagi, dan menyuruh prajuritnya membunuh lagi dengan mencincang tubuhnya. Tetapi I Godogan berhasil menghidupkan ayahnya lagi.
Sang Raja akhirnya menyerah bahwa itu pertanda sudah kehendak Dewata Agung. Godogan direstui menikahi putrinya. Mendapat restu, I Godogan berubah menjadi manusia, yang tiada lain adalah Pangeran Jenggala.
Akhir cerita, I Godogan (Pangeran Jenggala) yang diperankan seniman ISI Bali melanjutkan pernikahan karena sudah berhasil “meminang” Putri Daha yang diperankan mahasiswa dari Seoul Institute of the Arts
Korea Selatan.
Berbagai tarian dipentaskan, untuk memeriahkan pernikahan Pangeran Jenggala dengan Putri Daha tersebut, seperti Tari Cak, Tari Barong macan ala Bali dan tari Barong versi Korea. Penampilan mereka mendapat aplaus dari penonton. Suara tepuk tangan bergemuruh berkali-berkali di gedung berkapasitas ratusan penonton tersebut.
Pementasan Dramatari Godogan, diawali dengan penampilan karya musik Bayu Nada, perpaduan gamelan gong kebyar Bali dan musik Korea. Semangat para penabuh memainkan gamelan juga mendapat aplaus penonton. Tujuh penabuh Seoul Institute of the Arts, Korea Selatan dan sejumlah penabuh ISI Bali menunjukkan performa yang maksimal dalam memainkan alat musik.

Budayawan Prof. Dr. I Wayan Dibia yang membidani lahirnya garapan drama tari ini tampak puas atas penampilan para pemain. Demikian juga Founder Seoul Institute of the Art, Yoo Duk Hyung (Mr. Yoo) tampak bergembira usai pementasan. Para pemain juga demikian, meluapkan rasa gembiranya di atas panggung dengan berfoto ria.
Kata Prof. Dibia, Godogan dijadikan lakon garapan seni kali ini karena nafas ceritanya sama dengan cerita rakyat di Korea Selatan. Cerita rakyat juga sangat populer di sana, dan pihaknya mencari cerita-cerita yang memang nafasnya sama. Dipilihlah cerita rakyat ini mengacu tema sentral PKB 2026, yaitu Atma Kerthi atau penyucian diri, di mana Godogan yang kita tampilkan itu adalah bagian dari purifikasi seremoni. Jadi ritual penyucian dari Godogan itu agar dia bisa menemukan wujudnya dari kodok menjadi manusia (pangeran Jenggala) . “Jadi itu yang kita tampilkan dengan berbagai jenis kesenian dari Korea dan Bali. Itulah yang kami wujudkan setelah melalui proses workshop yang tidak terlalu panjang sebetulnya. Kami sangat berbangga ternyata ada sesuatu yang bisa kita tawarkan kepada penonton di sini, ” ujar Prof. Dibia.
Dengan kolaborasi ini, diharapkan mahasiswa Bali, seniman-seniman muda Bali bisa belajar dari rekan-rekan mereka dari Korea. Prof. Dibia yakin mahasiswa Korea juga bisa belajar dari teman-teman mereka di Bali. Oleh karena itu, ini suatu kesempatan yang sangat baik untuk edukasi pertukaran budaya. “Ke depan tentu kita ingin supaya pertukaran budaya ini bisa dilakukan lebih intens lagi,” ujarnya. (MBP2)
