Bonangan Saluang di PKB 2026, Merajut Tradisi dan Kreativitas

 Bonangan Saluang di PKB 2026, Merajut Tradisi dan Kreativitas

DENPASAR – baliprawara.com
Sekaa Gong Saluang Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, menghadirkan karya inovatif dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 melalui sajian tabuh Bonangan Saluang.

Bertempat di Kalangan Ratnakanda , Taman Budaya, Kamis (9/7/2026) Karya ini menjadi bukti kreativitas seniman Bali dalam mengembangkan warisan karawitan tanpa meninggalkan akar tradisi. Bahkan dalam ajang PKB tahun ini, gamelan ini menyandang karya baru hasil inovasi dan eksplorasi karya seorang komposer I Wayan Darya, S.Sn., M.Ag.

Bonangan Saluang merupakan konstruksi gamelan baru yang mengelaborasikan tiga karakter gamelan Bali, yakni bebonangan, selonding, dan gong luang. Perpaduan tersebut melahirkan warna musikal yang khas dengan kekayaan patutan dan saih, meskipun mengalami pengolahan baru dari sistem saih pitu yang selama ini dikenal dalam tradisi gamelan Bali.

Dalam penyajiannya, Bonangan Saluang menampilkan sejumlah repertoar gending yang disusun sesuai karakter barungan gamelan tersebut. Mulai dari gending sesandaran, gegangsaran, pegongan, leluangan, hingga saslondingan, seluruhnya dirangkai menjadi sajian tabuh klasik bernuansa baru.

Beberapa karya yang ditampilkan di antaranya Gending Sundaran, sebuah gegangsaran yang menggambarkan suasana kegiatan adat, ketika masyarakat bergegas menuju lokasi upacara. Kemudian Gending Pudak Sategal yang menghadirkan suasana hening dan agung melalui nuansa pegongan dengan karakter leluangan Bali, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Ada pula Gending Baro, tabuh pategak gegilak rangkep yang memunculkan suasana riang dan penuh kegembiraan dalam menjalankan aktivitas yadnya. Sementara Gending Sekar Kemoning mengolah motif saslondingan dengan sentuhan lelambatan gaya Singapadu, menghadirkan suasana manis dan menenangkan saat prosesi pemujaan berlangsung.

Karya lainnya yakni Gending Asep Menyan, menghadirkan nuansa kejawen dengan kesan harum dan penuh keakraban. Sedangkan Gending Demung tampil dengan karakter agung dan sakral, menggambarkan simbol penyucian serta keseimbangan alam.

Selain itu, Gending Baturan Silir mengolah bentuk bebaturan dalam pegongan Bali dengan nuansa klasik, membawa pesan kebersamaan melalui konsep silih asih, paras-paros, sagilik-saguluk. Penampilan ditutup dengan Gending Sesandaran Lebeng yang bernuansa energik sebagai simbol keberhasilan pelaksanaan upacara serta ungkapan syukur atas keharmonisan alam semesta.

Kurator PKB, Prof. Dr. I Wayan Dibia, memberikan apresiasi terhadap garapan tabuh klasik tersebut. Menurutnya, karya Bonangan Saluang menjadi bentuk kreativitas baru dari seniman Bali yang mampu menciptakan ruang eksplorasi melalui pengembangan instrumen dan komposisi musik tradisi.

“Terlahir sebuah karya gamelan garapan baru. Ini menjadi motivasi bagi seniman perseorangan yang menciptakan garapan tabuh dengan memainkan gamelan bebonangan dan saluang. Pencipta mencari momentum di Pesta Kesenian Bali,” ujarnya.

Ia menambahkan, kehadiran Bonangan Saluang tidak hanya menghadirkan ensambel baru, tetapi juga melahirkan karya-karya gending baru yang memperkaya khazanah seni karawitan Bali.

Melalui karya ini, Sekaa Gong Saluang Singapadu menunjukkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang berhenti pada masa lalu, melainkan terus berkembang melalui kreativitas, inovasi, dan keberanian seniman dalam mengeksplorasi kekayaan budaya Bali.(MBP2)

Redaksi

Related post