Catatan PKB 2026, Perlu Kritik Seni, Tambah Anggaran, Wajib Utuh Cinta Budaya

 Catatan PKB 2026, Perlu Kritik Seni, Tambah Anggaran, Wajib Utuh Cinta Budaya

‎‎DENPASAR – baliprawara.com
‎Sudah 48 kali Pesta Kesenian Bali (PKB) diselenggarakan sejak 1979 tanpa henti, namun selama itu pula kritik seni nyaris tidak pernah hadir secara resmi dalam bingkai peristiwa ini. Parade pembukaan dikawal meriah, arena lomba digeber penuh gairah, namun ruang renung yang seharusnya menyusul setelah tepuk tangan dan gamelan berhenti justru hening. Di manakah posisi kritik? Di manakah forum evaluatif yang menyuarakan pertanyaan tajam, mengulas pencapaian estetik, membandingkan kualitas antar peserta, atau sekadar menulis refleksi artistik yang mendorong pembaharuan? Pertanyaan itu dilontarkan pemerhati seni Kadek Suartaya, belum lama ini.

‎Menurut praktisi dan penulis seni asal Sukawati Gianyar ini, kritik perlu hadir dalam hajatan PKB. Kritik seni bukan sekadar menilai baik dan buruk, bukan pula upaya menjatuhkan karya atau pencipta. Kritik adalah bentuk tanggung jawab intelektual dalam menyikapi sebuah karya sebagai peristiwa budaya. Seorang kritikus tidak datang dengan pisau tajam untuk merobek karya, melainkan dengan sorot tajam untuk membuka lapisan makna dan menguji keotentikan gagasan. Tulisan kritik mampu menata ulang persepsi publik, mencerdaskan apresiasi, dan memberi jalan terang bagi seniman untuk terus tumbuh.
‎Namun realitas berkata lain. Media massa cetak, radio, dan televisi di Bali, bahkan di Indonesia secara umum, semakin menjauh dari peran sebagai kanal kritik. Jika pun ada ulasan seni, kebanyakan hanya sebatas laporan berita, bukan telaah kritis. Seni ditampilkan sebagai hiburan atau sekadar aktivitas seremoni, bukan sebagai ruang diskursif yang hidup. Ini menyebabkan dunia seni seperti berjalan dalam lorong pantul, di mana tepuk tangan selalu membesar tapi suara kritik tak pernah terdengar.
‎Dalam konteks PKB, absennya kritik menjadi ironi yang serius. Bayangkan sebuah panggung seleksi dan perlombaan besar yang tidak pernah mendapat catatan atau umpan balik bermutu, kecuali dari juri secara internal dan terbatas. Tidak ada forum terbuka yang mempublikasikan refleksi karya, tidak ada media yang konsisten mengangkat kekuatan dan kelemahan tiap pergelaran, tidak ada kanal publikasi yang mengarsipkan capaian artistik tahunan secara berkelanjutan. Akibatnya, PKB seperti festival tanpa rekam jejak estetika yang tuntas, hanya menjadi tumpukan dokumentasi visual tanpa suara intelektual.
‎Berbeda dengan negara-negara maju, seperti Jepang, Jerman, atau Prancis, kritik seni justru menjadi bagian vital dalam dinamika kebudayaan mereka. Di Paris misalnya, setiap pertunjukan teater, tari, atau pameran seni rupa tak akan lengkap tanpa munculnya satu atau dua esai kritik di harian seperti Le Monde atau Libération. Kritikus berpengaruh bahkan bisa menentukan reputasi seniman dan arah perkembangan seni. Di Tokyo, surat kabar Asahi Shimbun dan media daring seperti Tokyo Art Beat menyediakan kolom kritik yang ditulis oleh pakar, akademisi, dan jurnalis budaya secara rutin. Mereka tidak hanya menilai, tetapi memetakan tren dan menyuarakan kebutuhan publik seni.

‎Di sisi lain, PKB telah terbukti mampu membangun ekosistem budaya. Regenerasi pun terjadi. ‎Budayawan Prof. I Made Bandem dan Prof. Dr. Wayan Dibia dalam diskusi budaya Kawiya Bali bekerjasama dengan PWI Bali menyebut PKB telah berkembang dari sebuah festival pelestarian seni menjadi institusi budaya yang berfungsi sebagai pusat konservasi, inovasi, pendidikan, diplomasi, dan pembangunan kebudayaan Bali.

‎PKB berhasil menjaga kesinambungan antara tradisi dan modernitas melalui keterlibatan pemerintah, seniman, ‎masyarakat, dan media secara bersama-sama.

‎Ke depan, menuju PKB Emas 2028, tantangan terbesar bukan hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menjadikan Bali sebagai pusat
‎kebudayaan dunia yang tetap berakar kuat pada nilai-nilai lokal. ‎Dengan demikian, PKB tidak sekadar festival tahunan, melainkan warisan budaya hidup yang terus membentuk identitas Bali dari generasi ke generasi.

Anggaran Ditambah

‎Dalam diskusi budaya serangkaian PKB 2026 itu juga mencuat pemikiran agar dana PKB ditambah. Bila perlu mencapai 20 milyar, seperti disampaikan Nyoman Winata, pengurus PWI Bali dan guru besar Unud Prof. Darma Putra. Sebab selama ini dana PKB dinilai belum sepadan dengan pengeluaran yang digunakan seniman untuk mempersiapkan garapan seni. Bahkan ada ketimpangan dana dari masing-masing kabupaten/kota. Kabupaten/kota yang PAD-nya besar, bisa menggelontorkan dana PKB cukup besar.  Tapi ada sejumlah kabupaten tak bisa menyiapkan dana yang cukup, sehingga ada beberapa mata acara PKB tak bisa diikuti. Ini tentu akan berimbas pada regenerasi pengusung budaya Bali. Sebab, melalui PKB, regenerasi itu terjadi. Dulu, sebelum ada lomba di PKB, penari barong nyaris dilakoni generasi tua. Tetapi sekarang, banyak muncul penari bapang barong dari kalangan muda. Ini menunjukkan peran PKB sangat besar.

Dalam diskusi budaya Kawiya Bali-PWI Bali bertema Peran Media Massa dalam Publikasi dan Dokumentasi, mencuat pula pentingnya penganggaran yang cukup untuk media massa.  Sebab, media massa memiliki peran penting dalam mempublikasikan dan  mendokumentasikan perlaksanaan Pesta Kesenian Bali . Tanpa media, gaung PKB tak menggelegar. Ibarat sayur tanpa garam. Tetapi media massa tak hanya mengabarkan isian PKB ,  tapi bagaimana menjadi bagian dari kerja kebudayaan ini dengan membangun satu wacana yang produktif untuk pembangunan kebudayaan Bali.
‎Pemerintah sebagai leading sector dari kegiatan ini  mesti memposisikan peran media bukan hanya sekadar mengabarkan, tapi menjadi bagian penting dalam hajatan PKB. Dalam konteks itu, peran media mesti sejajar pentingnya dengan seniman yang penting. Karena itu perlu ada semacam pos anggaran bagi media agar bisa berkegiatan lebih maksimal. Bila perlu kata Prof.  Darma Putra, dikuatkan dalam Perda PKB.

Magnet PKB masih Kuat

‎Harus diakui magnet PKB masih sangat kuat.  Terlebih belakangan digelar lomba kesenian yang melibatkan generasi muda.  Panggung terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali penuh sesak setiap ada lomba kesenian.  Penonton selalu memadati gedung terbuka berkapasitas 10 ribu penonton itu, tiap digelar lomba Bapang Barong, Balaganjur dan sebagainya. Mereka memberi support, aplaus, bahkan larut dalam pagelaran.  Bahkan, kapasitas Panggung Ardha Candra  sering tak kuasa menampung lautan penonton, sehingga panitia PKB menyiapkan layar lebar, agar masyarakat bisa menyaksikannya dari luar panggung. Itulah pentingnya lomba dalam PKB, sehingga visi PKB yakni penggalian, pelestarian dan pengembangan kesenian betul-betul terjadi. Dan, itu sudah terbukti  sampai usia PKB ke 48 tahun hari ini.

‎Betapa pentingnya  lomba dalam PKB, diakui seniman, pengamat seni dan juri lomba Balaganjur, Nyoman Sutama. “Jika ada lomba Balaganjur dan Bapang Barong, Gedung Ardha Candra sudah disesaki penonton mulai pukul 16.00 Wita, padahal lomba baru dimulai beberapa jam kemudian.  Ini menunjukkan antusias masyarakat menyaksikan lomba seni dalam PKB sangat tinggi,” kata Sutama, seniman asal Jembrana ini.

Jumlah Pengunjung Meningkat

‎Jumlah pengunjung PKB terus meningkat. Melibatkan 2.900 lebih seniman, PKB 2026 dikunjungi 1,8 juta orang.  Termasuk kunjungan wisatawan asing. Pada PKB 2026 ini tercatat kunjungan wisman mencapai 5.743 orang, bertambah dari tahun lalu yang hanya 2. 400 orang.
‎Stand kuliner juga bertambah dari awalnya 52 stand pada PKB 2025 menjadi 75 stand pada PKB 2026 dengan transaksi mencapai Rp 5 milyar lebih. Demikian juga omzet IKM yang jumlahnya 124 lembaga, pada PKB tahun ini juga besar mencapai Rp 11,3 milyar.

‎Gubernur Sentil Pejabat
‎Tak Pernah Hadir  ke PKB

‎Gubernur Bali Wayan Koster saat menutup resmi PKB 2026, Sabtu (11/7/202) di panggung Ardha Candra Taman Budaya Bali, menyampaikan apresiasi terhadap suksesnya pelaksanaan PKB. Antusias penonton masih tinggi menyaksikan pagelaran PKB.  Demikian pula semangat pelaku seni dalam memanggungkan garapan seninya di PKB sangat tinggi.  Bahkan, ia mengapresiasi persiapan yang dilakukan  seniman memakan waktu berbulan-bulan  agar bisa tampil maksimal dalam hajatan kesenian akbar tahunan tersebut. Demikian juga terimakasih disampaikan kepada bupati dan walikota yang telah mendukung lewat penganggaran dana PKB.
‎Namun, di balik semangat semua pihak itu, Gubernur Koster sempat menyentil pejabat yang tak pernah hadir ke PKB menyaksikan dutanya pentas, memberi support dan apresiasi.
‎Sebagai pemimpin tegas Koster harus utuh cinta budaya. Mendorong seniman agar terus berkarya agar ekosistem budaya tetap hidup. Bali terkenal karena budayanya. Karena itu peran PKB sangat strategis dalam upaya menggali, melestatikan dan mengembangkan budaya Bali.  Demikian juga peran seniman, pemerintah melalui kebijakannya, dan masyarakat yang bersedia menonton, sangatlah besar untuk menyukseskan PKB.
‎Ketika seniman sudah tampil sebulan di PKB, kemudian pejabatnya tidak hadir menonton, itu kebangetan. (MBP2)




Redaksi

Related post