Perkuat Diplomasi Budaya, ‎Seoul Institut of The Art-ISI Bali Hadirkan Dramatari “Godogan” di PKB 2026

 Perkuat Diplomasi Budaya,  ‎Seoul Institut of The Art-ISI Bali Hadirkan Dramatari “Godogan” di PKB 2026

‎‎DENPASAR – baliprawara.com
‎Garapan seni persembahan partisipan luar negeri berkolaborasi dengan seniman Bali mewarnai panggung PKB 2026. Seoul Institute of the Art, Korea Selatan bergandengan dengan ISI Bali menghadirkan garapan kolaboratif yang memadukan kekayaan seni tradisi Bali dengan budaya Korea melalui drama tari berjudul “Pangeran Kodok atau I Godogan”.

‎Kolaborasi dua kampus seni beda negara tersebut menjadi simbol semakin eratnya hubungan kebudayaan antara Bali dan Korea Selatan, sekaligus membuka ruang bagi seniman muda kedua negara untuk saling belajar, berkreasi, dan mengembangkan karya seni bersama.

‎Founder Seoul Institute of the Art, Yoo Duk Hyung (Mr. Yoo) mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Bali. Setelah beberapa kali berkunjung ke Bali, ia semakin mencintai masyarakat dan kebudayaan Bali sehingga berkeinginan menjalin kerja sama yang lebih luas dengan ISI Bali.

‎”Saya sangat mencintai Bali, masyarakatnya, dan keseniannya. Karena itu saya ingin membangun kerja sama yang berkelanjutan antara Seoul Institute of the Art dengan ISI Bali,” terangnya, saat jumpa pers, Rabu (8/7/2026) di Taman Budaya Bali, Art Center Denpasar.

‎Salah satu kesenian Bali yang paling mengesankan baginya adalah tari Kecak karena mampu melibatkan banyak orang dalam satu harmoni pertunjukan. Bahkan ia memiliki keinginan agar  mahasiswanya dari berbagai program studi di Seoul Institute of the Art suatu  dapat menampilkan tari Kecak bersama.

‎”Dipandu Pak Prof. Wayan Dibia, kami berlatih selama satu minggu dan saya berharap mahasiswa dari berbagai fakultas bisa ikut terlibat. Kecak menunjukkan bagaimana banyak orang dapat bersatu dalam sebuah pertunjukan. Kecak membuka ruang bagi banyak orang untuk berkolaborasi, membentuk harmonisasi, dan menghadirkan kedamaian. Nilai itulah yang ingin kami bawa dalam kerja sama ini,” imbuhnya.

‎Ia juga menyoroti kepedulian kampusnya terhadap seni berbasis lingkungan. Menurutnya, banyak seniman Indonesia yang berkarya di Korea yang dinilainya sangat piawai mengolah sampah menjadi karya seni.

‎”Di kampus kami banyak memanfaatkan barang-barang bekas untuk diolah menjadi karya seni. Ada seniman-seniman muda di Seoul yang juga terus mengembangkan karya dari material daur ulang,” jelasnya.

‎Sementara itu, Presiden Seoul Institute of the Art, Chang Ji Hyung, mengatakan, kolaborasi tersebut merupakan langkah awal untuk terus menghadirkan karya-karya baru yang mempertemukan tradisi kedua negara.

‎”Kami akan melanjutkan apa yang diinginkan Mr. Yoo untuk terus mencari bentuk-bentuk kesenian baru. Saya sangat terkesan dengan apa yang kami temukan di Bali. Hanya dalam tiga hari gagasan pertunjukan Kecak sudah mulai terwujud dan ke depan kerja sama ini akan terus berlanjut,” ujarnya.

‎Menurut Chang, filosofi Kecak menjadi inspirasi penting dalam kolaborasi tersebut karena mampu menyatukan banyak orang dalam satu irama.

‎Budayawan Prof. Dibia, menjelaskan, proses kreatif kolaborasi telah dimulai sejak pertukaran akademik di Korea Selatan. Selain melatih tari Kecak, tim ISI Bali juga memperkenalkan pola-pola gerak, musik, hingga ekspresi tari Bali kepada mahasiswa Seoul Institute of the Art.

‎”Kami melakukan observasi bagaimana tarian Korea dapat diwarnai dengan unsur-unsur Bali, mulai dari pola ritme, gerak, hingga ekspresinya. Dalam prosesnya tentu terjadi gesekan, terutama mengenai kostum, karena kostum tari Bali memiliki detail yang sangat kuat, sementara budaya Korea memiliki pakem yang tidak bisa dimodifikasi sembarangan. Namun justru dari proses itulah lahir pemahaman baru,” jelasnya.

‎Ia menegaskan bahwa kesenian merupakan media paling efektif untuk membangun hubungan antarbangsa.

‎”Dengan garapan seperti ini, kesenian menjadi alat yang sangat ampuh dalam kolaborasi budaya. Kami berharap masyarakat yang menyaksikan pertunjukan ini dapat merasakan semakin dekatnya hubungan antara Indonesia dan Korea,” ucapnya.

‎Lebih lanjut dikatakan, kolaborasi kali ini diwujudkan melalui drama tari “Godogan”. Prof Dibia menjelaskan, lakon tersebut mengangkat cerita rakyat yang dipadukan dengan tema PKB tahun ini tentang Atma Kerthi atau penyucian diri.

‎”Di Korea Selatan cerita rakyat sangat populer. Kami mengangkat kisah Godogan yang menggambarkan proses penyucian hingga perubahan dari sosok binatang menjadi seorang pangeran. Cerita ini dipadukan dengan berbagai unsur seni Bali dan Korea sehingga menjadi pertunjukan yang utuh,” jelasnya.

‎Proses kolaborasi dilakukan secara bergantian, masing-masing selama satu minggu di Bali dan satu minggu di Korea Selatan. Sebanyak 25 seniman Korea berkolaborasi dengan 15 mahasiswa ISI Bali dalam produksi tersebut.

‎Melalui kerja sama ini, Dibia berharap para seniman muda kedua negara memperoleh pengalaman baru dalam berkesenian sekaligus memperkuat persahabatan budaya Indonesia dan Korea Selatan.

‎Sementara budayawan Prof. I Made Bandem, menambahkan, kehadiran Seoul Institute of the Art dalam Pesta Kesenian Bali 2026 memiliki makna historis karena mengingatkan kembali hubungan budaya yang telah terjalin antara Bali dan Pulau Jeju sejak dekade 1990-an.

‎”Kehadiran Seoul Institute of the Art mengingatkan kita bahwa Bali telah memiliki hubungan kebudayaan dengan Pulau Jeju sejak tahun 1990-an. Bali sudah tiga kali mengirim misi kesenian ke Jeju dan sebaliknya mereka juga pernah berpartisipasi dalam PKB. Kehadiran mereka hari ini tidak hanya memperkuat hubungan kebudayaan antarpulau, tetapi juga bisa menjadikan Bali sebagai pusat kebudayaan dunia. Kita bisa belajar banyak dari mereka,” pungkasnya. (MBP2)

Redaksi

Related post