Pameran Tunggal di Santrian Art Gallery: “Membaca” Karya Wiradana Setelah “Kacatri” Jadi Pemangku
Made Susanta Dwitanaya
Oleh: I Made Susanta Dwitanaya
Menjalani kehidupan sebagai manusia Bali berarti hidup di dalam lapisan-lapisan pengalaman yang kompleks. Kompleksitas itu hadir pada persinggungan antara kehidupan personal dan ruang sosial yang tidak pernah benar-benar terpisahkan.
Ruang sosial tersebut bukan semata-mata dibentuk oleh relasi antarmanusia, keluarga, klan, banjar, maupun adat, tetapi juga oleh jalinan nilai religius dan kosmologi yang menghubungkan manusia dengan leluhur, alam, serta yang ilahi.
Dalam ruang sosio-religius semacam itu, seseorang adakalanya berhadapan dengan kehendak yang datang dari wilayah niskala; sebuah realitas yang tidak kasatmata, tetapi hadir sebagai pengalaman empiris yang diyakini dan dijalani.
Kehendak tersebut kerap termanifestasi sebagai panggilan yang tidak dapat dipilih oleh seseorang, melainkan diterima sebagai bagian dari swadharma, yakni tugas kehidupan yang dipercayakan kepada seseorang. Menjadi pemangku merupakan salah satu bentuk panggilan tersebut. Ia bukan semata profesi yang direncanakan, ataupun diraih sebagai sebuah cita-cita, kerap kali justru yang tak pernah membayangkan dirinya akan menjalankan profesi itulah justru menjadi yang terpilih. Inilah jalan pengabdian yang diyakini sebagai kelanjutan jejak leluhur atau sebagai peran seorang jan banggul, sebagai penghubung antara alam sekala dan niskala. Dalam bahasa Bali, pengalaman semacam ini disebut kacatri atau yang ditakdirkan.
Tahun 2024 menjadi momen penting dalam perjalanan hidup Made Wiradana. Dikenal sebagai pelukis dengan bahasa visual yang khas, ia menerima panggilan untuk melanjutkan pengabdian leluhurnya sebagai seorang pemangku pada sebuah pura di lingkungan desanya. Peristiwa ini bukan semata perubahan status sosial , melainkan sebuah transformasi eksistensial yang mengubah ritme hidup, pengalaman tubuh, serta caranya memandang dunia keseniannya. Apa yang oleh Victor Turner disebut sebagai liminality, yakni fase ambang ketika identitas lama dan identitas baru saling bernegosiasi, menemukan bentuknya dalam pengalaman Made Wiradana. Ia tidak berhenti menjadi pelukis ketika menjadi pemangku. Kedua identitas tersebut hidup berdampingan, saling memengaruhi, dan perlahan membentuk bahasa artistik yang baru.
Sebelum menjalankan swadharma sebagai pemangku, karya-karya Made Wiradana telah dikenal melalui kekuatan garis-garisnya yang mengalir spontan, dan intuitif. Figur-figur naif yang lahir dari guratan tangannya menghadirkan tilas rupa yang khas, sesekali mengingatkan pada figur-figur purbawi yang hidup di antara ingatan, mitos, dan imajinasi. Narasi yang dibangun tidak pernah tunggal; ia terbuka terhadap berbagai kemungkinan pembacaan. Sebagaimana dikemukakan Henri Focillon, tangan bukan sekadar alat yang melaksanakan kehendak pikiran, tetapi memiliki kecerdasannya sendiri. Melalui tangan, bentuk menemukan kehidupannya.

Dalam pengertian itu, garis-garis Made Wiradana tidak hanya menjadi unsur formal pembentuk lukisannya, melainkan jejak tubuh yang sedang berpikir dan berimajinasi. Pengalaman visual yang dihadirkannya lahir bukan semata dari memori kognitif, tetapi juga dari memori prosedural tubuh (procedural memory), yakni ingatan yang terbentuk melalui pengulangan tindakan dan keterampilan.
Perubahan mulai berlangsung ketika ritme keseharian Made Wiradana dipenuhi oleh praktik-praktik kepemangkuan. Hari-harinya tidak lagi sepenuhnya diisi oleh kanvas, cat, dan kuas sebagai pelukis. Ketika berbusana sebagai pemangku, ia memimpin ritual, menggambar rerajahan, menulis aksara suci, menyiapkan berbagai sarana upacara, menghaturkan persembahan, dan menjalankan berbagai bentuk ngayah atau pengabdian sebagai bagian dari swadharma seorang pemangku.
Dalam kehidupan masyarakat Bali, tindakan-tindakan tersebut tidak berhenti sebagai aktivitas seremonial, tetapi merupakan cara menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, leluhur, dan yang ilahi. Ritual menjadi pengetahuan yang dijalankan oleh tubuh. Pengalaman yang dilakukan secara berulang perlahan mengendap sebagai ingatan yang bekerja tanpa harus selalu disadari. Di sinilah transformasi artistik Made Wiradana bermula: yang berubah bukan gaya visualnya, melainkan sumber pengalaman yang menghidupi gaya dan bahasa visualnya tersebut.
Rerajahan
Transformasi itu tampak ketika figur-figur dalam karya-karya mutakhirnya mulai berkelindan dengan idiom visual rerajahan, sementara guratan-guratan garis menyerupai aksara suci memenuhi bidang kanvas. Pada beberapa karya, komposisi juga memperlihatkan kecenderungan mandalik: ada yang memusat, ada pula yang menyebar secara asimetris namun tetap membangun harmoni. Akan tetapi, karya-karya ini tidak sedang merepresentasikan ritual ataupun mengutip simbol-simbol sakral secara ilustratif. Clifford Geertz menjelaskan bahwa simbol-simbol keagamaan bukan sekadar tanda yang menyampaikan makna, tetapi perangkat yang membentuk cara manusia mengalami realitas.
Dalam pengertian ini, ikon ikon menyerupai rerajahan maupun garis garis menyerupai guratan aksara pada lukisan Made Wiradana tidak lagi berfungsi sebagai teks yang harus dibaca ataupun mantra yang harus diucapkan. Keduanya bertransformasi menjadi ritme visual, menjadi energi rupa yang menghidupkan ruang gambar.
Kita dapat mengingat gagasan Tim Ingold yang memandang garis sebagai lintasan kehidupan (lines of life), jejak yang ditinggalkan tubuh ketika bergerak di dunia. Garis-garis Made Wiradana tidak sekadar membentuk figur, melainkan merekam pengalaman hidup yang kini dijalani melalui laku spiritual.
Dalam tradisi estetik Asia, Ananda K. Coomaraswamy mengemukakan bahwa seni tidak pernah semata-mata menjadi ruang ekspresi individual. Berkarya merupakan bagian dari pelaksanaan dharma, ketika keterampilan tangan memperoleh maknanya melalui pengabdian terhadap keteraturan kosmis. Pandangan ini menemukan resonansinya dalam perjalanan artistik Made Wiradana. Menjadi pemangku tidak menghentikan proses kreatifnya sebagai pelukis ataupun seniman kontemporer, tetapi justru memperluas medan artistiknya. Praktik melukis dan praktik ritual tidak lagi berjalan sebagai dua dunia yang berbeda dan terpisah, melainkan saling mempengaruhi dan saling menghidupi.
Dalam estetika Bali dikenal pula konsep taksu, yakni daya hidup atau aura yang lahir bukan semata-mata dari kecakapan teknis, tetapi dari keselarasan antara kemampuan, ketulusan, disiplin, penghayatan, dan pengabdian. Taksu tidak dapat direkayasa; ia tumbuh melalui lelaku yang panjang. Oleh karena itu, pameran Kacatri tidak hanya menandai babak baru dalam perjalanan hidup Made Wiradana, tetapi juga memperlihatkan transformasi kesadaran artistiknya. Studio dan pura tidak lagi berdiri sebagai dua ruang yang terpisah, melainkan menjadi dua wajah dari pengabdian yang sama. Yang hadir dalam pameran ini bukan representasi spiritualitas Bali, bukan pula apropriasi ikonografi ritual demi kepentingan estetik kontemporer. Yang kita saksikan adalah bagaimana pengalaman hidup sebagai manusia Bali, yang bergerak di antara sekala dan niskala, di antara seni dan swadharma sebagai pemangku, perlahan membentuk ulang bahasa visual seorang Wiradana.
Garis-garis Wiradana tetap mempertahankan spontanitas dan figur-figur naif yang menjadi ciri khasnya, namun kini memikul lapisan pengalaman yang berbeda. Ia menjadi tilas perjalanan batin, ketika seni tidak lagi sekadar menghadirkan bentuk, melainkan menjelma sebagai cara menjalankan swadharma. Dalam pengertian itu, Kacatri bukan hanya judul sebuah pameran, tetapi sebuah konsep untuk memahami bagaimana pengalaman kultural, pengabdian spiritual, dan praktik artistik bertemu, saling mengendap, lalu menemukan bentuknya di atas kanvas.(*)
Penulis adalah akademisi seni, perupa dan penulis seni.
