Pramuka Badung Tanam Mangrove di Pulau Pudut, Perkuat Mitigasi Bencana
Kwarcab Badung mengikuti penanaman mangrove di kawasan Pulau Pudut, Tanjung Benoa, Badung. (ist)
MANGUPURA – baliprawara.com
Pramuka Peduli Kwartir Cabang (Kwarcab) Badung ikut mengambil bagian dalam Gerakan Bali Menanam melalui aksi penanaman mangrove di kawasan Pulau Pudut, Tanjung Benoa, Badung, Rabu 7 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Provinsi Bali 2026 dengan tema “Ngariksa Bumi Nusantara dalam Bali Era Baru Hijau, Tangguh, Sejahtera”.
Penanaman ini mangrove melibatkan berbagai unsur sebagai bentuk kolaborasi dalam menjaga ekosistem pesisir. Selain mendukung kelestarian lingkungan, kegiatan ini juga berkaitan dengan upaya membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi potensi risiko bencana.
Waka Abdimas, Humas dan Informatika Kwarcab Badung, Gede Wirawan, mengatakan, keterlibatan Pramuka dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan nilai Dasa Darma Pramuka, khususnya “Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia”.
“Cinta alam tidak cukup hanya menjadi slogan. Cinta alam harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Ketika kita menanam dan menjaga lingkungan, sesungguhnya kita juga sedang menjaga kehidupan dan mengurangi risiko bagi masyarakat,” ujar Gede Wirawan.
Menurutnya, mangrove memiliki peran penting bagi kawasan pesisir, baik dalam menjaga fungsi ekologis maupun mendukung upaya pengurangan risiko bencana. Karena itu, kegiatan lingkungan perlu dilakukan secara edukatif, melibatkan masyarakat, dan berkelanjutan.
Momentum Bulan Pengurangan Risiko Bencana juga dimanfaatkan untuk memperkuat peran Pramuka dalam kegiatan lingkungan dan kesiapsiagaan masyarakat.
“Gerakan Bali Menanam merupakan aksi nyata. Pramuka Peduli Kwarcab Badung bersama berbagai unsur berkolaborasi dalam gerakan ini sebagai bagian dari upaya membangun Bali yang hijau dan tangguh terhadap risiko bencana,” katanya.
Upaya mengurangi risiko bencana tidak hanya dilakukan ketika bencana terjadi. Mitigasi juga dapat dibangun sejak awal melalui perlindungan lingkungan, terutama ekosistem pesisir yang memiliki fungsi penting bagi kawasan sekitarnya.
Karena itu, penanaman mangrove di Pulau Pudut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pemeliharaan, pengawasan, edukasi, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan gerakan tersebut.
Gede Wirawan menyebut kegiatan menanam juga memiliki makna dalam membangun kesadaran bersama. “Yang kita tanam hari ini bukan hanya mangrove, tetapi juga kesadaran. Pohon yang tumbuh akan memberikan manfaat bagi generasi berikutnya. Karena itu, aksi seperti ini harus menjadi gerakan bersama dan dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Pramuka Peduli Kwarcab Badung terus mendorong kegiatan pengabdian masyarakat yang menggabungkan unsur lingkungan, pendidikan, mitigasi bencana, dan pemberdayaan masyarakat. Aksi di Pulau Pudut menjadi bagian dari kontribusi Pramuka dalam mendukung gerakan Bali yang hijau dan tangguh, sekaligus memperkuat kesadaran bahwa pengurangan risiko bencana membutuhkan peran bersama. (MBP)
