Prosesi Ngingsah hingga Mamineh Empehan Lembu Digelar Jelang Puncak Karya Tawur Agung di Pura Hulundanu Batur

 Prosesi Ngingsah hingga Mamineh Empehan Lembu Digelar Jelang Puncak Karya Tawur Agung di Pura Hulundanu Batur

Prosesi Ngingsah, Nyangling, dan Mamineh Empehan Lembu serangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Tri Kahyangan Jagat Pura Hulundanu Batur, Senin (31/8). (ist)

BANGLI – baliprawara.com

Rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama, Tri Kahyangan Jagat Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, berbagai tahapan persiapan mulai digelar. Sejumlah prosesi sakral kembali dilaksanakan pada Soma Kliwon Uye, Senin 31 Agustus 2026, sebagai bagian dari upaya mempersiapkan sarana dan prasarana yadnya menjelang puncak karya.

Sejak senin pagi, kawasan Pura Hulundanu Batur dipenuhi aktivitas krama Desa Adat Songan bersama para pangrajeg karya dan pihak yang terlibat dalam pelaksanaan upacara. Berbagai bahan yang akan digunakan dalam yadnya dipersiapkan sesuai tata titi yang berlaku. Setiap tahapan digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian upacara.

Tiga prosesi utama dilaksanakan, yakni Ngingsah, Nyangling, dan Mamineh Empehan Lembu. Ketiga ritual tersebut menjadi bagian penting dalam proses penyucian dan penyempurnaan sarana upakara yang akan digunakan pada rangkaian Tawur Agung Manca Wali Krama.

Rangkaian upacara tersebut dipuput Ida Sri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun dari Griya Kedhatuan Kawista Pura, Desa Blatungan, Pupuan, bersama Ida Pandita Mpu Dharma Daksa Prami dari Griya Lingga Acala, Desa Calo.

Yajamana Karya, Ida Sri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, menjelaskan bahwa prosesi Ngingsah merupakan tahapan pembersihan bahan-bahan upakara, khususnya beras dan biji-bijian yang nantinya digunakan sebagai sarana banten. Secara sekala, proses tersebut bertujuan membersihkan bahan dari berbagai unsur yang dapat mengurangi kelayakannya sebagai sarana persembahan.

Setelah Ngingsah, rangkaian dilanjutkan dengan prosesi Nyangling. Tahapan ini dimaknai sebagai penyempurnaan kesucian sarana upakara. Selain menekankan kebersihan fisik, Nyangling juga mengandung makna niskala melalui permohonan agar seluruh bahan yang digunakan dalam yadnya memperoleh kesucian dan keselarasan sehingga layak dipersembahkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya.

Sementara itu, prosesi Mamineh Empehan Lembu dilakukan dengan menyiapkan empehan atau susu lembu yang menjadi salah satu sarana suci dalam pelaksanaan yadnya. Dalam tradisi Hindu, susu lembu memiliki nilai simbolis yang berkaitan dengan kehidupan, kesuburan, kemakmuran, serta penghormatan terhadap alam sebagai sumber kehidupan.

“Penggunaan sarana tersebut sekaligus menjadi ungkapan rasa syukur umat atas anugerah alam yang telah menopang kehidupan manusia,” ujar Ida Sri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun.

Ketua Pelaksana Karya, Jero Saba, menambahkan bahwa, ketiga prosesi tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam persiapan yadnya. Setiap tahapan memiliki fungsi dan makna tersendiri, baik dari sisi sekala maupun niskala.

Keterlibatan krama melalui semangat ngayah menjadi bagian penting dalam menyukseskan Karya Tawur Agung Manca Wali Krama. Selain sebagai bentuk pengabdian kepada Ida Bhatara, kegiatan tersebut juga memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, dan pelestarian tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. (MBP)

 

redaksi

Related post