Prosesi Subhakti Watos dan Mapapada Walungan Jadi Rangkaian Karya Tawur Agung di Pura Ulun Danu Batur
Prosesi Mapapada Walungan, rangkaian Karya Tawur Agung di Pura Ulun Danu Batur.
BANGLI – baliprawara.com
Rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, terus berlangsung. Pada Redite Umanis Menail, Minggu, 6 September, umat bersama krama adat kembali melaksanakan sejumlah prosesi penting sebagai bagian dari tahapan yadnya yang telah berlangsung secara berkesinambungan.
Pelaksanaan upacara pada hari tersebut dipusatkan pada dua rangkaian utama, yakni Ngaturang Subhakti Watos Upakara Pakelem dan Danu Kertih serta Mapapada Walungan Upakara Pakelem dan Danu Kertih. Kedua prosesi tersebut menjadi bagian penting dalam keseluruhan pelaksanaan karya yang bertujuan menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam semesta dan Sang Pencipta.
Ketua Umum Karya, I Gede Darmawa yang didampingi Ketua Pelaksana Jero Saba menjelaskan bahwa pelaksanaan kedua prosesi tersebut memiliki makna spiritual yang mendalam. Selain sebagai bentuk persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, rangkaian upacara juga menjadi simbol penghormatan terhadap alam beserta seluruh sumber kehidupan yang menopang keberlangsungan umat manusia.
Menurut penjelasannya, prosesi Ngaturang Subhakti Watos yang dilaksanakan berdasarkan simadresta Desa Adat Songan merupakan wujud bhakti dan penghormatan kepada Tuhan beserta seluruh manifestasi-Nya. Sementara itu, Mapapada Walungan menjadi tahapan penting dalam mempersiapkan serta menyelaraskan rangkaian upacara yang berkaitan dengan Pakelem, Danu Kertih, dan Wana Kertih.
Prosesi sakral tersebut dipuput oleh sejumlah sulinggih dari berbagai wilayah di Bali. Di antaranya Ida Pandita Mpu Istri Wijadaksa Manik Geni dari Griya Agung Giri Lingga Wana, Payangan, Gianyar, Ida Pandita Mpu Budha Putra Kanda Daksa Manuaba dari Griya Agung Candra Geni Manuaba, Tegallalang, Gianyar, serta Ida Pandita Mpu Dharma Wijaya Kusuma dari Griya Agung Wijaya Lingga Kusuma, Karangasem.
Tidak hanya para pandita, pelaksanaan karya juga melibatkan unsur adat yang memiliki peran penting dalam jalannya upacara. Guru Kubayan Desa Adat Songan, Jro Mangku Gede, Jro Putus, Jro Dasaran, Jro Balian hingga Jro Penyarikan turut ambil bagian sebagai pemuput maupun pelaksana adat selama rangkaian karya berlangsung.
Dari Kota Denpasar, sejumlah sekaa Rejang ikut ngayah, di antaranya Sekaa Rejang ST Srikandi, ST Paragotra Sentana Dalem Tarukan, serta ST Tunjung Sari. Pertunjukan Wayang Kulit juga turut mengiringi jalannya upacara.
Sementara itu, dari Kabupaten Bangli hadir kelompok Sidakarya Bangli dan Wayang Bangli. Desa Adat Songan sendiri menampilkan Sekaa Gong Desa Adat Songan yang membawakan Tabuh Sidakarya serta para pregina setempat.
Dukungan kesenian juga datang dari Sekaa Gong Satya Yadnya dan Pregina Desa Satya Yadnya yang turut mengiringi prosesi sakral tersebut. Selain sebagai pelaksanaan ritual keagamaan, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat sradha dan bhakti umat, sekaligus menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan. (MBP)
