Rekonstruksi Gamelan Warisan Maestro Wayan Lotring Bergema di PKB 2026
Rekonstruksi gamelan warisan Maestro Wayan Lotring ditampilkan di PKB 2026. (ist)
DENPASAR – baliprawara.com
Karya-karya legendaris maestro karawitan Bali, I Wayan Lotring, kembali diperkenalkan kepada publik melalui panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Komunitas Seni Tapahana dari Banjar Temacun, Kelurahan Kuta, Kecamatan Kuta, yang menjadi Duta Kabupaten Badung, menghadirkan Rekasadana atau Pergelaran Rekonstruksi Gamelan Tua di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali.
Pementasan tersebut bukan hanya menjadi hiburan bagi para penonton, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian warisan seni musik Bali yang pernah berkembang di wilayah Kuta. Seluruh sajian menampilkan kembali komposisi-komposisi yang lahir dari tangan I Wayan Lotring, tokoh karawitan asal Banjar Tegal, Kuta, yang dikenal memiliki pengaruh besar dalam perkembangan seni tabuh Bali pada awal abad ke-20.
Sejumlah pejabat turut hadir menyaksikan pertunjukan tersebut, di antaranya Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ny. Rasniati Adi Arnawa, Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti, Anggota DPRD Badung I Wayan Puspa Negara, serta jajaran pemerintah di lingkungan Kecamatan Kuta.
Koordinator Pementasan I Nyoman Agus Adi Putra menjelaskan seluruh repertoar yang ditampilkan merupakan hasil penelusuran terhadap karya asli Maestro I Wayan Lotring. Beberapa gending yang dipentaskan meliputi Tabuh Kawitan, Tari Legong Kraton Lasem, Tabuh Solo, Tari Legong Sperandana, hingga Sekar Gendot.
Ia mengungkapkan proses rekonstruksi berlangsung selama kurang lebih dua hingga tiga bulan. Selain menjalani latihan intensif, tim juga melakukan penggalian informasi kepada para tetua desa serta mempelajari rekaman audio dan dokumentasi lama agar karakter musikal khas Lotring tetap terjaga.
“Yang paling berharga, kami memperoleh rekaman lama yang menjadi referensi bagaimana gending-gending karya Maestro Lotring dimainkan. Dari sanalah kami berusaha menghadirkan kembali warna musikal khas Kuta,” ujarnya.
Sebanyak 25 penabuh dan lima penari terlibat dalam pementasan tersebut dengan menggunakan barungan gamelan pelegongan. Menurut Agus, tantangan terbesar bukan hanya memainkan komposisi yang telah direkonstruksi, tetapi juga menghidupkan kembali gaya permainan Lotring yang dikenal dinamis, tegas, dan penuh energi.
Harapannya, penampilan di ajang PKB dapat mendorong semakin banyak generasi muda untuk mengenal sekaligus mempelajari karya-karya asli Maestro I Wayan Lotring sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Kuta.
Salah seorang penabuh gender, Made Okan Ananda Wiradana, mengaku membutuhkan proses yang tidak singkat untuk memahami karakter permainan khas Lotring. Menurutnya, pola permainan kendang, gangsa, hingga berbagai ornamentasi musikal memiliki ciri yang berbeda dibandingkan gending Bali pada umumnya.
“Style Lotring sangat dinamis dan memiliki ciri khas yang kuat. Kami harus benar-benar mempelajari pola-pola permainan yang diwariskan agar tidak kehilangan karakter aslinya,” katanya.
Sementara itu, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa memberikan apresiasi kepada para seniman yang telah menampilkan karya terbaik pada PKB tahun ini. Ia menilai semangat pelestarian budaya yang ditunjukkan generasi muda patut mendapat dukungan agar seni tradisi tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, pemerintah daerah akan terus mendukung pelaku seni karena kebudayaan merupakan salah satu fondasi penting dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Badung. Ia juga berharap sanggar-sanggar seni memiliki ruang pertunjukan yang lebih rutin sehingga karya para seniman dapat dinikmati masyarakat maupun wisatawan sepanjang tahun. (MBP/a)
