SLB Se-Bali Tunjukkan Talenta Seni, Suguhkan Tari Selat Segara Hingga Dramatari Cupak Grantang di PKB 2026
DENPASAR – baliprawara.com
Sekitar 120 orang siswa dari 11 SLB se-Bali menunjukkan talenta seninya di hadapan penonton Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026, Jumat (19/6).
Kalangan Angsoka Taman Budaya Bali, tempat penari dan penabuh dari siswa berkebutuhan khusus itu dipenuhi pengunjung PKB. Mereka menyuguhkan beragam Tari dan Tabuh, mulai dari Tabuh Palawakya, Tari Selat Segara, Tari Janger hingga dramatari Cupak Grantang.
Kemampuan menari dan menabuhnya juga hampir sepadan dengan siswa pada umumnya. Itu hasil dari kerja keras mereka belajar berkesenian dari guru pembinanya.
Mereka juga memiliki komitmen yang tinggi untuk melestarikan kesenian Bali. Pada ajang PKB, mereka diberi kesempatan untuk tampil keduakalinya, seperti disampaikan I Wayan Mudayana, Ketua MKKS SLB Provinsi Bali.
”SLB berkomitmen untuk berpartisipasi dalam Pesta Kesenian Bali. Partisipasi SLB ini yang kedua kalinya di PKB. Sama seperti PKB tahun lalu, kali ini SLB juga menampilkan pementasan kesenian,” ujarnya.
Dikatakan, di samping ikut melestarikan budaya Bali, SLB juga berkomitmen memberikan kesempatan kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk melatih kemandirian dan menunjukkan talenta. Sebab, mereka sesungguhnya mempunyai talenta atau kelebihan yang sama dengan anak-anak pada umumnya.
Harapan ke depan, anak-anak SLB ini tetap memiliki kesempatan yang sama.
Provinsi Bali sudah memberikan kesempatan, kemudian Panitia PKB juga memberikan ruang untuk pentas setiap tahunnya. “Kami harapkan kerjasama yang bagus antara pihak Dinas Kebudayaan dengan SLB ini terus dijalin. Sebab, pembelajaran sungguhnya tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas. Inilah kesempatan anak-anak menunjukkan hasil dari pembelajaran,” pungkasnya.
Beragam Kesenian
Sementara itu, sebelas SLB yang terlibat dalam pementasan di PKB ini tampil dengan beragam kesenian.
SLB Negeri 1 Denpasar menampilkan Tabuh Penegak Palawakia dan Tari Penyambutan Selat Segara. Tabuh Penegak Palawakia merupakan komposisi musik instrumental khas Bali yang berfungsi sebagai musik pembuka atau instrumental murni sebelum sebuah pertunjukan utama dimulai.
Tari Selat Segara yang merupakan tari kreasi baru khas Bali berfungsi sebagai Tari Penyambutan untuk menyambut tamu kehormatan.
SLB Negeri 1 Karangasem menampilkan
Tari Kreasi Nitya Bhakti, yang menggambarkan kesucian hati dua gadis dalam menjalankan swadarma (kewajiban). Di bawah naungan cahaya kebaikan, mereka bersama-sama merangkai simbol pengabdian, saling mengisi kekurangan dan menguatkan satu sama lain. Melalui interaksi yang selaras kedua penari, menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mencapai harmoni . Bakti yang tulus menjadi jembatan bagi mereka untuk tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan berbudi pekerti luhur.
SLB Negeri 1 Tabanan membawakan Tari Kreasi Iswari yang menggambarkan wanita adalah mahluk yang lembut namun bukanlah mahluk yang lemah. Di dalam kelembutannya tersimpan kekuatan dasyat. Kasihnya bisa menyuburkan dunia, dan murkanya bisa membakar angkara. Dua kepribadian itu bukan pertentangan, tapi kesatuan. Karena untuk benar-benar melindungi kadang cinta harus berubah menjadi keberanian
SLB Negeri 1 Gianyar menampilkan Tari Wirayuda. Tari Wirayuda adalah tari tradisi yang diciptakan pada tahun 1979 oleh maestro tari I Wayan Dibia. Tarian ini berasal dari kata “Wira” yang artinya (pahlawan) dan “Yuda” yang berarti (perang). Tarian ini menceritakan sekelompok prajurit yang sedang bersiap maju ke medan pertempuran dengan membawa tombak sebagai properti tari.
SLB Negeri 1 Badung membawakan Tari Galang Bulan, tari kreasi baru yang menggambarkan keceriaan dan tingkah laku remaja yang sedang kasmaran. Tarian ini menonjolkan suasana riang gembira muda-mudi saat menikmati keindahan cahaya rembulan di malam hari.
SLB Pradnyagama tampil bernyanyi sambil memainkan alat musik tradisional.
SLB Negeri 1 Bangli mementaskan Tari Kembang Janger. Tari Kembang Janger merupakan tari pergaulan muda-mudi Bali yang melambangkan keceriaan, kebersamaan, dan kegembiraan. Ditarikan oleh kelompok Janger (wanita) dan Kecak (laki-laki), tarian ini menampilkan gerakan lincah dan nyanyian bersahut-sahutan yang diiringi tabuhan musik, mencerminkan harmoni sosial serta keindahan tradisi lokal. Tarian ini ditarikan oleh siswa siswi tunarungu. Sebagai pembina tari Pande Nyoman Sunarta dan Kadek Ayu Murtini.
SLB Negeri 2 Denpasar menyuguhkan
Tari Sapuh Guna. Sapuh yang berarti perbuatan, sedangkan Guna berarti sifat atau watak manusia itu sendiri. Harapan demi harapan tersifat dalam setiap perbuatan Satwam, Rajas, Tamas. Semua berserah menuju cahaya yang kuasa mencapai Pikiran Suci. Keegoisan dan kuasa ditinggalkan, menyatu dan berirama bersama dinamika kehidupan. “Sapuh Guna” memiliki arti sebagai suatu pensucian diri yang bertujuan untuk menetralisir sifat-sifat yang mempengaruhi manusia. Dikemas dalam bentuk tari kreasi baru kekinian dengan sajian pola gerak kontemporer.
SLB Negeri 1 Klungkung membawakan
Tari Kreasi Bebarisan Swatantra, menceritakan seorang anak dengan hambatan pendengaran yang berjuang untuk mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Melalui dukungan keluarga dan pengalaman hidup, ia belajar berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Meski menghadapi berbagai tantangan dan stigma, ia perlahan mampu membuktikan bahwa dirinya bisa berdiri sendiri dan berperan dalam masyarakat. Kisah ini menjadi simbol perjuangan menuju kemandirian dan menemukan jati diri. Kisah ini tidak hanya menggambarkan perjuangan seorang anak, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih memahami, menerima, dan menghargai keberagaman kemampuan setiap individu.
SLB Sushrusa menampilkan Tari Kreasi Tradisi. Tari kreasi yang dibalut dengan pakem tradisi.
SLB Negeri 3 Denpasar menampilkan
Drama Tari Cupak Grantang, yang
mengisahkan dua saudara yang berbeda watak, karakternya. I Cupak malas, rakus, dan licik, sedangkan I Grantang rajin, jujur, dan baik hati. Suatu hari, mereka pergi untuk menyelamatkan putri raja yang diculik raksasa. Dengan berani, Grantang masuk ke gua dan berhasil mengalahkan raksasa serta menyelamatkan sang putri. Namun, karena iri, Cupak mengkhianatinya, Cupak lalu mengaku sebagai pahlawan di hadapan raja. Akhirnya, Grantang berhasil kembali kekerajaan dan mengungkap kebenaran. Raja pun menghukum Cupak dan memberi penghargaan kepada Grantang atas keberanian dan kejujurannya. (MBP2)
