Ratusan Pelajar Ngayah di Pura Hulundanu Batur, Jadi Sarana Menanamkan Nilai Tradisi Sejak Dini

 Ratusan Pelajar Ngayah di Pura Hulundanu Batur, Jadi Sarana Menanamkan Nilai Tradisi Sejak Dini

Ratusan siswa-siswi SD dan SMP, ngayah mareresik di Pura Hulundanu Batur, Desa Songan, Kintamani, Bangli. (ist)

MANGUPURA – baliprawara.com

Ratusan pelajar dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama ambil bagian dalam kegiatan ngayah melalui aksi mareresik atau kerja bakti di kawasan Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Rabu 26 Agustus 2026. Keterlibatan para siswa ini menjadi bukti bahwa pelestarian tradisi dan kepedulian terhadap tempat suci terus diwariskan kepada generasi muda sejak usia sekolah.

Sejak pagi hari, para siswa datang ke lokasi pura dengan mengenakan pakaian adat Bali. Mereka didampingi oleh para guru dan membawa perlengkapan kebersihan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Setibanya di area pura, para pelajar langsung membagi tugas untuk membersihkan sejumlah titik yang menjadi bagian penting dari kawasan tempat ibadah tersebut.

Berbagai aktivitas dilakukan secara gotong royong. Ada yang menyapu halaman, mengumpulkan dedaunan kering, membersihkan rumput liar, mengangkut sampah, hingga merapikan sejumlah area di sekitar pelinggih, wantilan, jalan setapak, dan lingkungan pura secara keseluruhan. Meski sebagian besar masih berusia muda, semangat mereka terlihat tinggi dalam menjalankan tugas ngayah yang diberikan.

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada upaya menjaga kebersihan lingkungan pura, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan karakter bagi para siswa. Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan sosial dan keagamaan, para pelajar diajak memahami pentingnya nilai kebersamaan, tanggung jawab, disiplin, serta penghormatan terhadap warisan budaya dan spiritual yang telah dijaga secara turun-temurun.

Salah seorang guru pendamping, Ni Ketut Muklun, menjelaskan bahwa kegiatan ngayah memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar membersihkan lingkungan. Menurutnya, aktivitas tersebut menjadi media pembelajaran yang efektif untuk mengenalkan nilai-nilai luhur kehidupan kepada generasi muda.

Ia menambahkan, para siswa yang terlibat berasal dari beberapa sekolah, di antaranya SMP Negeri 4 Kintamani, SDN 3 Songan, SDN 6 Songan, dan SDN 7 Songan. Jumlah peserta yang berasal dari SMP Negeri 4 Kintamani saja mencapai sekitar 800 siswa yang kemudian dibagi ke sejumlah lokasi ayah-ayahan sesuai kebutuhan di berbagai pura yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan keagamaan.

Kegiatan mareresik ini juga berkaitan dengan pelaksanaan Karya Tawur Agung Manca Wali Krama yang tengah berlangsung di Desa Adat Songan. Rangkaian upacara tersebut dijadwalkan berlangsung selama hampir dua bulan, dimulai sejak 12 Agustus 2026 hingga 7 Oktober 2026. “Karena menjadi pusat kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak krama dan pemedek, kebersihan lingkungan pura menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, berbagai unsur masyarakat ikut terlibat sesuai peran masing-masing. Tidak hanya orang dewasa dan tokoh adat, kalangan pelajar juga diberikan kesempatan untuk berpartisipasi sebagai bentuk pembelajaran sekaligus pengabdian kepada masyarakat dan tempat suci.

Kehadiran para siswa memberikan warna tersendiri selama kegiatan berlangsung. Selain membantu mempercepat proses pembersihan area pura, partisipasi mereka menunjukkan bahwa semangat ngayah masih hidup dan terus diwariskan kepada generasi penerus. Para guru pun terus memberikan arahan agar siswa menjaga etika, ketertiban, serta sikap hormat selama berada di kawasan suci.

Melalui pengalaman tersebut, para pelajar diharapkan dapat memahami bahwa menjaga kebersihan lingkungan, terutama di tempat suci, merupakan tanggung jawab bersama. Nilai gotong royong, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian yang diperoleh selama kegiatan diyakini akan menjadi bekal penting dalam kehidupan mereka di masa mendatang.

Aksi mareresik di Pura Hulundanu Batur sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi ngayah tidak dibatasi oleh usia. Dari anak-anak hingga orang dewasa, seluruh lapisan masyarakat dapat berkontribusi dalam mendukung pelaksanaan karya keagamaan. Semangat kebersamaan inilah yang diharapkan terus terjaga agar rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama dapat berlangsung dengan lancar, tertib, dan memberikan manfaat bagi seluruh krama yang terlibat. (MBP)

 

redaksi

Related post